“ Ketika ALLAH Memanggilnya…”
“
Na…. Nana…. Bangun udah siang. Kamu ngak kuliah apa??!! “.
“Hah..
apa?!!” . tersentak ku bangun dari tidur setelah mendengar teriakan ibu yang
nyaring.
Masih
dengan mata setengah terpejam, kulihat jam di hp yang ada disebelah tempat
tidur.
“Astagfirullah
…!!! Jam setengah tujuh, ku belum sholat shubuh!!.
Cepat-cepat
bangun dan ke kamar mandi mengambil wudhu untuk sholat shubuh.
“ Ibu… kenapa ibu baru bangunin nana
sekarang??!! “. Ku mendatangi ibu yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“
ibu nggak tega bangunin kamu. Semalam saja kamu baru tidur jam 2.” Sahut ibu
sambil menyiapkan sarapan pagi ini.
Beberapa
hari belakangan ini ku sering tidur sangat larut. Demi proposal penelitian ku
aku rela bergadang bermalam-malam agar bisa selesai tepat waktu. Aku sudah
terlanjur berjanji pada orang tuaku agar bisa lulus kuliah akhir tahun ini.
Karena
sering tidur hampir shubuh, tak ayal sholat shubuh selalu molor dan jarang
sekali bisa melakukan sholat tahajjud lagi. Semua yang kulakukan ini terkadang
membuatku merasa tidak tenang, hal yang kulakukan ini memang tidak salah tetapi
yang kulakukan hanya berorientasi untuk dunia, sedangkan ibadah-ibadah ku
kepada allah swt jadi terlalaikan.
Hari ini ku berencana berangkat ke
kampus dan menemui dosen pembimbing untuk konsultasi masalah proposalku. Janji
bertemu dengan dosen jam 11.30 . deg-degan rasanya, khawatir kalau proposalnya
yang sudah kukerjakan bermalam-malam masih juga belum bisa disetujui.
Setengah
jam sudah menunggu, ternyata dosen yang dicari belum juga datang. Setelah
kutelepon lagi ternyata beliau sedang dalam perjalanan.
“kamu
Nana kan??!!”. Seorang wanita berjilbab, seperti seorang akhwat tiba-tiba
menepuk pundakku dari belakang ketika ku sedang asik mengetik sms.
“Eh…
iya bener. Saya Nana. Kamu?!”. Jawabku dengan gugup, ku bingung siapa wanita
ini. Sepertinya kenal tapi dimana.
“Aku
Christi na. masih inget nggak? Temen SMA mu dulu”. Wanita itu memberitahu siapa
dirinya sebelum ku sempat menebak-nebak siapa dia.
“Christi?!!,
tapi kamu kan….??!!”. sebelum kusempat melanjutkan perkataanku, tiba-tiba
Christi bilang, “ya na, sekarang aku sudah muallaf. 2 tahun lalu ku memutuskan
untuk memeluk islam”.
Lama
sekali ku tidak berjumpa dengan Christi. Terakhir kali kami bertemu waktu kelulusan
sekolah sekitar 4 tahun yang lalu. Setelah mendengar apa yang dikatakannya,
secara spontan ku peluk Christi ada rasa rindu karena telah lama tak bertemu
dan juga ada rasa haru karena dia telah mendapat hidayah sekarang. Berulang
kali kupanjatkan rasa syukur yang tak terkira dalam hatiku, atas yang telah
allah berikan pada Christi.
Beberapa
menit kemudian kami bercerita panjang lebar mengenai kegiatan-kegiatan yang
kami lakukan sekarang, kadang bercerita tentang masa-masa SMA dulu, sangat
menyenangkan sampai hampir ku lupa janji ku untuk bertemu dengan dosen
pembimbing. Alhamdulillah ternyata dosennya belum datang.
“Ada
apa na? lagi nunggu seseorang ya?”. Christi langsung bertanya ketika melihat ku
yang tiba-tiba gelisah.
“iya
ni, ada janji mau ketemu ma dosen pembimbing. Janji nya sih jam 11.30 tadi,
tapi kayaknya bapaknya belum datang juga”.
“coba
hubungi lagi aja deh.” Christi menyarankan untuk menelpon dosenku lagi.
Setelah
ditelepon ternyata pak dosen sebentar lagi sampai, sekitar lima menit.
Beberapa
menit kemudian, adzan sholat dzuhur berkumandang di mushola-mushola. Bergema
diseantero kampus.
“yok
Na, kita sholat dulu. Udah adzan tuh”. Christi mengajak dan menarikku kearah
mushola terdekat.
“duluan
aja ti, dosenku bentar lagi sampe. Nggak enak udah janji. Ntar kalo beliau
sampe terus ku nggak ada ntar beliau langsung pergi lagi. Maklum dosen nya
banyak jam terbang. Mending ntar ku dikira mahasiswa nggak tau etika”. Jelasku
panjang lebar kepada Christi.
“mentingin
panggilan dosen apa panggilan allah?”. Christi tersenyum. Sungguh kata yang
sederhana tapi sangat mengena. Tak bisa ku jawab apa-apa selain senyuman. Lalu
Christi pergi,berjalan ke musholah. Perasaan ragu tiba-tiba merayapi hatiku.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali menunggu dosenku.
Beberapa
menit kemudian, pak dosen yang ditunggu akhirnya datang juga. Dengan wajah
sedikit bad-mood, beliau menyuruhku masuk kedalam ruangannya. Jantungku terasa
semakin berdegup kencang. Do’a tak henti-hentinya kupanjatkan dalam hati,
berharap diberi kemudahan dalam menghadapi urusan yang satu ini.
Satu
jam berkonsultasi, hal yang ku khawatirkan ternyata terjadi juga. Menurut
beliau banyak sekali kesalahan dalam proposalku ini, katanya argumen yang
kutuliskan kurang kuat. Ku hanya bisa pasrah dan berjanji akan memperbaiki
secepatnya. Keluar dari ruangan ingin rasanya ku menangis.
Beberapa
hari kemudian ku lebih sering bertemu dengan Christi, saling sharing dan curhat
tentang alasan nya hijrah agama, Tanya jawab seputar islam mulai dari alqur’an,
shirah nabawiyah, fiqih, dll.
Suatu
ketika ku ceritakan pada Christi masalah proposalku yang ditolak oleh dosen
pembimbingku dan bagaimana pengorbananku berhari-hari untuk menyelesaikannya
sampai harus bergadang-gadang. Dengan berapi-api kuceritakan semuanya. Christi
hanya diam dan tersenyum mendengar apa yang aku ceritakan. Kutanya bagaimana
menurutnya. Jawabannya hanya Alhamdulillah allah masih menyayangimu. Jawaban
yang sungguh membuatku bingung.
“apa
maksudnya?”
“iya,
allah masih menyayangimu Na. Kamu ngerasa kalo pengorbananmu demi proposalmu
sia-sia kan?!!. Sesungguhnya tidak ada yang sia-sia, hanya saja belum waktunya.
Tadi kan kamu bilang kalo demi proposalmu, sampai kamu melalaikan ibadahmu
kan?!. Mungkin allah sedang mengingatkan kalo semua ketentuan itu ada ditangan
allah dan manusia hanya bisa berusaha dan bertawakal, dan allah pengen kamu
inget dan deket lagi padaNya. Coba deh kamu bayangkan seandainya proposalmu
diterima, mungkin kamu hanya akan semakin focus pada proposalmu dan semakin
melupakan allah”.
Sungguh
tak ada dalam fikiranku hal itu. bahwa memang benar manusia hanya bisa
berusaha, allah jualah yang menentukan akhirnya.
Setelah
diskusi itu, 3 minggu kemudian ku tidak bertemu lagi dengan Christi. Ku coba
hubungi, Dia bilang dia ada diluar kota sekarang.
Beberapa
hari kemudian terdengar kabar yang membuatku hampir tidak percaya dan merasa
ini hanya mimpi. Kucoba menelpon keluarganya untuk memastikan berita yang
kudengar. 2 hari yang lalu Christi telah berpulang ke padaNya. Kecelakaan mobil
yang dialaminya ketika dalam perjalanan kesini telah merenggut nyawanya.
Tangisku lansung pecah dan kutumpahkan semuanya dihadapan ibu. Nasehat-nasehat
ibu bisa membuatku tenang kembali, mulai bisa berpikir jernih dan merenungi
hikmah dibalik semua peristiwa ini.
Ku
bersyukur kepada allah karena telah memberikannya hidayah sebelum memanggilnya.
Dia adalah wanita sholehah yang kukenal. Teringat semua pertemuan dan diskusi
yang kami lakukan berapa bulan terakhir sungguh rasanya tidak percaya. Dalam
hatiku mulai bertanya, apakah kelak allah juga akan memanggilku dalam keadaan
seperti Christi? Ataukah allah akan memanggilku dalam keadaan lalai? . butiran
air mata kembali mengalir diiringi nasehat Christi yang terngiang terakhir
kali.




