I. Judul Percobaan : Reaksi
Kualitatif Logam-Logam Transisi
II. Tanggal Percobaan : 18 Oktober
2011
III.
Tujuan Percobaan : Mengenali uji Kualitatif melalui reaksi-reaksi
kimia ion-ion logam transisi berdasarkan golongannya.
IV.
Dasar Teori
Kimia Logam Transisi
Logam transisi
memiliki sifat-sifat khas logam, yakni keras, konduktor panas dan listrik yang
baik dan menguap pada suhu tinggi. Walaupun digunakan luas dalam kehdupan
sehari-hari, logam transisi yang biasanya kita jumpai terutama adalah besi,
nikel, tembaga, perak, emas, platina, dan titanium. Namun, senyawa kompleks
molekular, senyawa organologam, dan senyawa padatan seperti oksida, sulfida,
dan halida logam transisi digunakan dalam
berbagai riset kimia anorganik
modern.
Unsur-unsur
transisi adalah unsur logam yang memiliki kulit elektron d atau f yang
tidak penuh dalam keadaan netral atau kation. Unsur transisi terdiri atas 56
dari 103 unsur. Logam-logam transisi diklasifikasikan dalam blok d, yang
terdiri dari unsur-unsur 3d dari Sc sampai Cu, 4d dari Y ke Ag,
dan 5d dari Hf sampai Au, dan blok f, yang terdiri dari unsur lantanoid
dari La sampai Lu dan aktinoid dari Ac sampai Lr. Kimia unsur blok d dan
blok f sangat berbeda. Bab ini
mendeskripsikan sifat dan kimia
logam transisi blok d.
Struktur kompleks logam
a Atom pusat
Sifat
logam transisi blok d sangat berbeda antara logam deret pertama (3d)
dan deret kedua (4d), walaupun perbedaan deret kedua dan ketiga (5d)
tidak terlalu besar. Jari-jari logam dari scandium sampai tembaga (166 sampai
128 pm) lebih kecil daripada jari-jari itrium, Y, sampai perak, Ag, (178 sampai
144 pm) atau jari-jari, lantanum, sampai emas (188 sampau 146 pm). Lebih
lanjut, senyawa logam transisi deret pertama jarang yang berkoordinasi 7,
sementara logam transisi deret kedua dan ketiga dapat berkoordiasi 7-9. Cerium,
Ce, (dengan radius 182 pm) ~ lutetium, Lu, (dengan radius 175 pm) terletak
antara La dan Hf dan karena kontraksi lantanoid, jari-jari logam transisi deret
kedua dan ketiga menunjukkan sedikit variasi.
Logam
transisi deret kedua dan ketiga berbilangan oksida lebih tinggi lebih stabil
dari pada keadaan oksidasi tinggi logam transisi deret pertama. Contohnya
meliputi tungsten heksakhlorida, WCl6, osmium tetroksida, OsO4, dan platinum
heksafluorida, PtF6. Senyawa logam transisi deret pertama dalam bilangan
oksidasi tinggi adalah oksidator kuat dan oleh karena itu mudah direduksi. Di
pihak lain, sementara senyawa M(II) dan M(III) umum dijumpai pada logam
transisi deret pertama, bilangan oksidasi ini jarang dijumpai pada unsur-unsur
di deret kedua dan ketiga. Misalnya, hanya dikenal sedikit senyawa Mo(III) atau
W(III) dibandingkan dengan senyawa Cr(III). Ion akua (ion dengan ligan air)
sangat umum dalam logam transisi deret pertama tetapi ion yang sama untuk logam
transisi deret kedua dan ketiga jarang diamati.
Senyawa
kluster logam karbonil logam transisi deret pertama dengan ikatan M-M dalam
bilangan oksidasi rendah dikenal, tetapi senyawa kluster halida atau sulfida
jarang. Umumnya, ikatan logam logam dibentuk dengan lebih mudah pada logam 4d
dan 5d daripada di logam 3d. Momen magnet senyawa logam
transisi deret pertama dapat dijelaskan dengan nilai spin saja (lihat bagian
6.2(d))
tetapi sukar untuk menjelaskan
momen magnet deret kedua dan ketiga kecuali bila faktor-faktor lain seperti
interaksi spin-orbital juga dipertimbangkan. Jadi, penting untuk mengenali dan
memahami perbedaan signifikan dalam sifat kimia yang ada
antara logam transisi deret
pertama dan deret selanjutnya, bahkan untuk unsur-unsur dalam golongan yang
sama.
Sifat
logam transisi blok d tidak berbeda tidak hanya dalam posisi atas dan
bawah di tabel periodic tetapi juga di golongan kiri dan kanan. Golongan 3
sampai 5 sering dirujuk sebagai logam transisi awal dan
logam-logam ini biasanya oksofilik dan halofilik. Dengan tidak hadirnya ligan jembatan,
pembentukan ikatan logam-logam sukar untuk unsur-unsur ini. Senyawa organologam
logam-logam ini diketahui sangat
kuat mengaktifkan ikatan C-H dalam hidrokarbon. Logam transisi akhir dalam
golongan-golongan sebelah kanan sistem periodik biasanya lunak dan memiliki
keaktifan besar pada belerang atau selenium.
Logam
transisi blok d yang memiliki orbital s, p, dan d dan
yang memiliki n elektron di orbital d disebut dengan ion
berkonfigurasi dn. Misalnya, Ti3+ adalah ion d1, dan Co3+ adalah ion d6.
Jumlah elektron yang menempati orbital yang terbelah oleh medan ligan
(lihat 6.2(a)) disebut dengan pangkat di simbol orbitalnya. Contohnya,
suatu ion dengan 3 elektron di t dan 2 elektron di e dinyatakan dengan
t3e1.
b Ligan
Senyawa
ion logam yang berkoordinasi dengan ligan disebut dengan senyawa kompleks.
Sebagian besar ligan adalah zat netral atau anionik tetapi kation, seperti
kation tropilium juga dikenal. Ligan netral, seperti amonia, NH3, atau karbon
monoksida, CO, dalam keadaan bebas pun merupakan molekul yang stabil,
semenatara ligan anionik, seperti Cl- atau C5H5 -, distabilkan hanya jika dikoordinasikan
ke atom logam pusat. Ligan representatif didaftarkan di Tabel 6.1 menurut unsure
yang mengikatnya. Ligan umum atau yang dengan rumus kimia rumit diungkapkan
dengan singkatannya. Ligan dengan satu atom pengikat disebut ligan
monodentat, dan yang memiliki lebih dari satu atom pengikat disebut ligan
polidentat, yang juga disebut ligan khelat. Jumlah atom yang diikat
pada atom pusat disebut dengan bilangan
koordinasi.
c Bilangan koordinasi dan struktur
Senyawa
molekular yang mengandung logam transisi blok d dan ligan disebut
senyawa koordinasi. Bilangan koordinasi ditentukan oleh ukuran atom logam
pusat, jumlah elektron d, efek sterik ligan. Dikenal kompleks dengan
bilangan koordinasi antara 2 dan 9. Khususnya kompleks bilangan koordinasi 4
sampai 6 adalah yang paling stabil secara elektronik dan secara geometri dan kompleks
dengan bilangan koordinasi 4-6 yang paling banyak dijumpai dengan berbagai bilangan koordinasi
dideskripsikan.
Kompleks berbilangan koordinasi
dua
Banyak ion yang kaya elektron d10,
misalnya: Cu+, Ag+, dan Au+, membentuk kompleks linear seperti [Cl-Ag-Cl]- atau
[H3N-Au-NH3]-. Kompleks dengan valensi nol [Pd(PCy3)2] dengan ligan yang sangat
meruah trisikloheksilfosfin juga dikenal. Umumnya, kompleks berkoordinasi 2 dikenal
untuk logam transisi akhir.
Kompleks berbilangan koordinasi
tiga
Walaupun
[Fe{N(SiMe3)3}3] adalah salah satu contoh, komplek dengan bilangan koordinasi 3
jarang diamati.
Kompleks berbilangan koordinasi
empat
Bila
empat ligan berkoordinasi pada logam, koordinasi tetrahedral (Td) adalah
geometri yang paling longgar, walaupun sejumlah kompleks bujur sangkar (D4h)
juga dikenal. [CoBr4]2-, Ni(CO)4, [Cu(py)4]+, [AuCl4]- adalah contoh-contoh
kompleks tetrahedral. Ada beberapa kompleks bujur sangkar dengan ligan identik,
seperti [Ni(CN)4]2-, atau [PdCl4]2-. Dalam kasus kompleks ligan campuran,
sejumlah kompleks bujur sangkar ion d8, Rh+, Ir+, Pd2+, Pt2+, dan Au3+,
telah dilaporkan. Contohnya termasuk [RhCl(PMe3)3], [IrCl(CO)(PMe3)2],
[NiCl2(PEt3)2], dan [PtCl2(NH3)2] (Et =C2H5). Isomer geometrik cis dan trans
mungkin diamati pada senyawa kompleks dengan dua jenis ligan, dan pertama
kali dicatat oleh A. Werner ketika mensintesis senyawa berkoordinat 4
[PtCl2(NH3)2]. Karena kompleks tetrahedral tidak akan menghasilkan isometri
geometri, Werner menyimpulkan bahwa senyawa kompleksnya adalah bujur sangkar.
Baru-baru ini cis-[PtCl2(NH3)2] (cisplatin) telah digunakan untuk terapi
tumor dan dan patut dicatat bahwa yang aktif hanyalah isomer cis.
Kompleks berbilangan koordinasi
lima
Contoh
kompleks berbilangan koordinasi lima adalah trigonal bipiramidal (D3h)
Fe(CO)5 atau piramida bujur sangkar (C4v) VO(OH2)4. Dulunya, kompleks
berbilangan koordinasi lima jarang namun jumlahnya kini meningkat. Perbedaan
energi antara dua modus koordinasi (nbipiramida dan piramida bujursangakar,
pentj) ini tidak terlalu besar dan transformasi struktural mudah terjadi.
Misalnya, struktur molekular dan spektrum Fe(CO)5 konsisiten dengan struktur
bipiramid
trigonal, tetapi spektrum NMR 13C
menunjukkan satu sinyal pada suhu rendah, yang mengindikasikan bahwa ligan
karbonil di aksial dan ekuatorial mengalami pertukaran dalam skala waktu NMR
(10-1~10-9 s). Transformasi struktural berlangsung melalui struktur piramid
bujur sangkar dan mekanismenya dikenal dengan pseudorotasi Berry.
Kompleks berbilangan koordinasi
enam
Bila
enam ligan berkoordinasi dengan atom pusat, koordinasi oktahedral (Oh)
yang paling stabil dan mayoritas kompleks memiliki struktur oktahedral.
Khususnya, ada sejumlah kompleks Cr3+ dan Co3+ yang inert pada reaksi
pertukaran ligan, dinyatakan dengan [Cr(NH3)6]3+ atau [Co(NH3)6]3+. Keduanya
khususnya penting dalam sejarah perkembangan kimia koordinasi.
[Mo(CO)6], [RhCl6]3-, dsb. juga
merupakan kompleks oktahedral. Dalam kasus ligan campuran, isomer geometri cis-
dan trans-[MA4B2] dan mer- dan fac-[MA3B3], dan untuk
ligan khelat Δ-[M(AA) 3] dan Λ-[M(A-A)3] isomer optik, mungkin terjadi.
Struktur oktahedral menunjukkan distorsi tetragonal (D4h), rombik (D2h),
trigonal (D3h) yang disebabkan efek elektronik atau sterik. Distorsi
tetragonal [Cr(NH3)6]3+ oleh faktor
elektronik adalah contoh khas efek Jahn-Teller.
Atom
dengan koordinasi enam dapat berkoordinasi prisma trigonal. Walaupun koordinasi
ini diamati di [Zr(CH3)6]2- atau [Re{S2C2(CF3)2}3], kompleks logam
jarang berkoordinasi prisma trigonal karena koordinasi oktahedral secara
sterik lebih natural. Walaupun demikian telah lama dikenal bahwa
belerang di sekitar logam adalah prisma trigonal dalam padatan MoS2 dan WS2.
Kompleks berbilangan
koordinasi lebih tinggi dari enam
Ion
logam transisi deret kedua dan ketiga kadang dapat mengikat tujuh atau lebih
ligan dann misalnya [Mo(CN)8]3- atau [ReH9]2-. Dalam kasus-kasus ini, ligan
yang lebih kecil lebih disukai untuk menurunkan efek sterik.
Kimia organologam logam blok d
Kimia organologam
logam transisi masih relatif baru. Walaupun kompleks etilena platina yang disebut
dengan garam Zeise, K[PtCl3(C2H4)], tetrakarbonilnikel, Ni(CO)4, dan
pentakarboniliron, Fe(CO)5, yang kini diklasifikasikan senyawa organologam,
telah dipreparasi di abad ke-19, ikatan dan strukturnya waktu itu belum
dikeahui. Riset W. Hieber dkk pada senyawa karbonil logam merupakan penanda
penting di tahun 1930-an, tetapi hasil-hasil studi ini sangat terbatas karena analisis
struktur yang belum berkembang pada waktu itu.
Penemuan ferosen,
Fe(C5H5)2, di tahun 1951 merupakan fenomena penting dalam kimia organologam.
Modus ikatan yang sangat unik dalam senyawa ini menjadi sangat jelas terlihat dengan
hasil analisis struktural kristal tunggal sinar-X, spektrum NMR, spektrum IR,
dsb; dan merupakan titik awal perkembangan selanjutnya di bidang ini. Merupakan
penemuan besar bahwa ferosen menunjukkan kestabilan termal yang tinggi walaupun
ada anggapan umum ikatan logam transisi-karbon akan sangat tidak stabil. Namun
dengan jelas ditunjukkan bahwa senyawa ini memiliki struktur berlapis dengan
lima atom karbon gugus siklopentadienil terikat secara simultan.
V.
Alat dan Bahan
a) Tabung
reaksi
b) Gelas
ukur
c) Bunsen
d) Pipet
tetes
e) 0,2
gram K2Cr2O7
f) 0,5
gram serutan Zn
g) 10
M HCl
h) 5
ml CH3COONa
i)
0,5 gram asam oksalat
j)
1 M K2CrO4
k) 2,5
M H2SO4
l)
5 M NaOH
m) 5
M HCl
n) 0,2
M AgNO3
o) Na2S2O3
p) KMnO4
VI.
Cara kerja
Golongan Cr
1. Kedalam
campuran 1 tetes larutan 1 M K2CrO4, 1 tetes 2,5 M H2SO4,
3 ml air dan 3 ml amil alcohol eter, ditambahkan 3 tetes larutan 10 % H2O2.
2. Larutan
K2CrO4 1 M,1 ml diasamkan dengan 1 ml 2,5 M H2SO4
kemudian 1 ml larutan 10 % H2O2 tambahkan
sebelum dihangatkan.
3. Larutan
K2CrO4 1 M,1 ml diasamkan dengan 1 ml 2,5 M H2SO4.
Setelah dipanaskan larutan ini kemudian diairi gas H2S.
4. Kedalam
larutan K2CrO4 1 M,1 ml ditambahkan 0,5 gram asam
oksalat, kemudian campuran dipanaskan.
5. Kedalam
0,2 gram K2Cr2O7 ditambahkan 0,5 gram serutan
Zn dan 5 ml 10 M HCl hingga larutan berwarna biru. Fitratnya ditambahkan
kedalam larutan jenuh 5 ml CH3COONa.
Golongan
Mn
1. Kedalam
larutan KMnO4 tambahkan larutan H2SO4 setelah
itu tambahkan larutan jenuh NH4Cl dan 5 m NaOH, kemudian dibagi dua
bagian (a dan b) dan masing-masing dilakukan perlakuan sebagai berikut:
tambahkan larutan H2O2, aliri gas dan asamkan dengan 5 M
HCl.
2. Kedalam
3 tetes larutan KMnO4 tambahkan 1 ml larutan 5 M H2SO4
3 tetes larutan 0,2 M AgNO3 dan sedikit Na2S2O3
, kemudian dipanaskan.
3. Empat
tetes larutan KMnO4 diasamkan dengan 1 ml larutan 2,5 M H2SO4,
kemudian diuji dengan H2O2.
4. Tiga
tetes larutan KMnO4 diasamkan dengan 1 ml larutan 5 H2SO4,
kemudian diuji dengan Na2S2O3.
5. Kedalam
4 tetes larutan KMnO4 tambahkan 1 ml iar dan beberapa tetes MnSO4
6. Satu
gram KMnO4 dipanaskan dengan 2 ml larutan 10 M NaOH kemudian
larutkan dan asamkan dengan H2SO4.
7. Satu
Kristal KMnO4 diletakkan diatas nyala Bunsen, dinginkan , kemudian
larutkan kedalam 3 ml air.
VII.
Hasil pengamatan
Cromium
|
No
|
Cara kerja
|
Pengamatan
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
K2CrO4 (kuning)
+ H2SO4 (bening) + air
K2CrO4 (kuning)
+ H2SO4 (bening) +1 ml 10 % H2O2.
ss
Tidak dilakukan
Larutan K2CrO4
(kuning) + 0,5 gram asam oksalat lalu dipanaskan
0,2 gram K2Cr2O7
ditambahkan 0,5 gram serutan Zn dan 5 ml 10 M HCl Fitratnya ditambahkan
kedalam larutan jenuh 5 ml CH3COONa.
|
Larutan K2CrO4 +
H2SO4 menjadi berwarna orange + 3 ml air larutan
berwarna kuning bening + 3 ml alcohol menjadi 2 fase, bagian atas bening,
bagian bawah kuning.+ H2SO4 larutan H2SO4
turun kebawah, berwarna kuning.
Larutan K2CrO4 +
H2SO4 berwarna orange. Ditambah H2O2
larutan berwarna orange tetapi lebih memudar. Dipanaskan kembali kewarna awal
Asam oksalat larut sebagian dalam
larutan K2CrO4 , setelah dipanaskan warna nya menjadi
hijau kehitaman, asam oksalat larut seluruhnya.
0,2 gram K2Cr2O7
ditambahkan 0,5 gram serutan Zn dan 5 ml 10 M HCl larutan berwarna hijau tua
bening, diambil fitratnya + CH3COONa. Larutan menjadi dua
bagian atasnya berwarna hijau pekat
dan bagian bawah berwarna hijau bening dan ada gas (bau yang menyengat)
|
Mangan
|
No
|
Cara kerja
|
Pengamatan
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
|
Larutan KMnO4 + H2SO4
+ NH4Cl dan 5 m NaOH, dibagi dua bagian
a.tambahkan larutan H2O2,
b.aliri gas dan asamkan dengan 5 M HCl
3 tetes KMnO4 (ungu)
+ 1 ml 5 M H2SO4
(bening) + 0,2 AgNO3 + Na2S2O3, lalu dipanaskan
KMnO4 (ungu) + 1ml 2 M H2SO4(
bening),lalu diuji dengan H2O2
KMnO4+1ml 5 M H2SO4
(bening) diuji dengan Na2S2O3 (bening)
Tidak dilakukan
1
gram KMnO4
+ 2 ml 10 M NaOH lalu dipanaskan + H2SO4
Kristal
KMnO4
dipanaskan didiginkan + 3ml air
|
KMnO4 + H2SO4
+ NH4Cl larutan ungu kecoklatan.
KMnO4 + H2SO4
+ AgNO3 larutan berwarna ungu + Na2S2O3 larutan menjdi bening dan ada
endapan. Setelah dipanaskan larutan tetep bening ada endapan berkurang.
KMnO4 + H2SO4
larutan berwarna ungu ditambah H2O2 larutan dibagian
bawah berwarna kecoklatan.
KMnO4 + H2SO4
larutan berwarna ungu + Na2S2O3 larutan berwarna putih susu dan ada endapan
putih.
KMnO4 (ungu)+ NaOH(bening)
larutan berwarna ungu,dipanaskan dan + H2SO4 larutan ungu kehitaman dan
berbau menyegat.
KMnO4 (ungu)dipanaskan
serbuk menjadi hitam pekat didinginkan + 3ml air larutan menjadi ungu pekat
|
- Mekanisme
reaksi
Kromium
CrO42- (aq) + 2H+ (aq) + 2H2O2
(aq) -> CrO5 (aq) 3H2O (aq)
4CrO5 (aq) + 12H+ ->
4Cr3+ + 7O2+6H2O
K2CrO4 (aq) + (COOH)2
-> 2K+ + CrO42- + 2 CO2
dipanaskan + 2H2O
K2Cr2O7
+ Zn + HCl + CH3COONa.
Cr2O72-(s)+
Zn (s)( tidak bereaksi)
K2Cr2O7 +
Zn + 14 HCl -> 2Cr3 (aq)
+ 2K+(aq) +8 Cl- (aq) + 7H2O(aq) +
Zn2+ (aq) + 3Cl2(g)
Cr2O72-(aq)
+ 4 Na+ + H2O (aq) -> 2 NaCrO4
(aq) + 2H+
Mangan
2 MnO4- (aq)
+ 5H2O2 (aq) 6H+ (aq)
->5O2 (g) + 2Mn2+ (aq) + 8H2O
(aq)
2 K MnO4 (aq) + H2SO4
(aq) -> Mn2O7 (aq) + 2 K+ + SO42-
(aq) + Caq)
K MnO4(aq) + H2O (l)
-> K+ (aq) + MnO4- (aq)
MnO4- (aq) + 2 MnO2 (S) + H2O
(aq) -> 2 MnO4- (aq) + H2O
(aq)
4 MnO4- (aq)
+ 4 OH- (aq) -> MnO4-2 + H 2O
+ O2
MnO4-2 + 3H2SO4
-> MnO4- (aq) + MnO2(s)
+ 2 H+(aq) + SO4 2-+ 2H2O
2 K MnO4(s) -> K MnO4(s)
+ MnO2(s) + O2(g)
K2 MnO4(s) + H2O(aq)
-> 2 K+ (aq) + MnO42-(aq)
- Pembahasan
Percobaan
kromium
1.
Berdasarkan hasil pengamatan K2CrO4
yang berwarna kuning,direaksikan dengan H2SO4
yang tak berwarna.larutan bercampur menjadi warna orange. Ketika
ditambahkan amil alcohol larutan tidak bercampur, setelah ditambahkan 3 tetes H2O2 larutan terpisah
menjadi dua fase,bagian atas bening dan bagian bawah berwarna kuning dan
larutan H2O2 turun kebawah larutan berwaran kuning.
Berdasarkan referensi, dengan mengasamkan
larutan dengan asam sulfat encer, amil alcohol dan menambahkan sedikit hydrogen
peroksida, terbentuklah pewarnaan biru pada diekstraksi kedalam fase organic
dengan mengocok berlahan-lahan. Karena kedua gugus peroksida,
senyawa ini sering disebut kromium peroksida.dalam larutan air warna biru
memudar dengan cepat, karena kromium pentoksida terursi menjadi kromium (III)
dan oksigen.stabilitas yang meninkat dalam larutan amil alcohol,dan seterusnya
disebaban oleh terbentuknya kompleks dengan senyawa yang mengandung oksigen.
2. Berdasarkan hasil pengamatan ketika K2CrO4
yang berwarna kuning , ditambahkan asam sulfat menjadi larutan berwarna orange,
ketika ditambahkan H2O2 larutan berwaran orange tetapi
lebih memudar. Ketika dipanaskan warna larutan kembali berwarna orange.
Berdasarkan referensi.jika larutan kromat
diolah dengan hydrogen peroksidadiperoleh larutan kromium pentoksida yang biru
tua. Larutan biru ini sangat tidak stabil dan terurai ,menghasilkan oksigen dan
larutan garm kromium (III) yang hijau.
3. Berdasarkan hasil pengamatan, ketika K2CrO4
yang berwarna kuning ditambahkan asam oksalat yaitu serbuk putih, larutan
menjadi warna merah bata dan larut sebagian, kemudian dipanaskan larutan
menjadi warna hijau kehitaman dan larut secara sempurna.tidak terjadi endapan,
dan larutan akan menghasilkan gas yaitu gas CO2.
4. Ketika K2Cr2O7
ditambahkan dengan Zn yang berwarna
abu-abu tidak terjadi reaksi , namun
setelah ditambahkan HCl. K2Cr2O7 dan Zn larut
seta ada gelembung-gelembung gas. Larutan menjadi hijau tua dan setela
ditambahkan CH3COONa larutan menjadi dua bagian dibagian atas warna
larutannya berwarna hijau pekat, dan dibagian bawah nya berwarna hijau bening,
dan ada bau yang menyengat.
Berdasarkan
referensi yaitu reduksi kromat atau dikromat padat dengan asam klorida pekat.
Pada pemanasan suatu kromat atau dikromat padat dengan asam klorida pekat,klor
dilepaskan dan dihasilkan suatu larutan yang mengandung ion kromium (III)
Percobaan
mangan
1. KMnO4 yang berwarna ungu ditambahkan dengan H2SO4
setelah diasamkan dengan H2SO4 larutan berubah menjdi
warna ungu yang tidak terlalu pekat dan ditambahkan H2O2 menjadi
dua fase yaitu bagian bawah ungu pekat dan bagian atas ungu bening lama
kelamaan larutan berubah menjadi warna coklat.
Berdasarkan referensi bahwa penambahan
reagensia ini kepada larutan kalium permanganat yang telah diasamkan dengan
asam sulfat pekat mengakibatkan warna menjadi hilang dan melepaskan oksigen
yang murni (mengandung air).
2.
KMnO4 ditambahkan H2SO4 larutan menjadi
warna ungu dan tidak terlalu pekat dan setelah ditambahkan Na2S2O3 terdapat dua
fase yaitu bagian bawah ungu dan diatas tidak berwarna.
Berdasarkan referensi permanganate larut
dalam reagensia ini dengan menghasilkan suatu larutan hijau, yang mengandung
heptoksida (anhidrida permanganate), larutan ini bias meledak dengan spontan
pada suhu biasa dan ledakan yang sangat hebat mungkin terjadi pada pemanasan.
3. KMnO4 ditambahkan H2SO4
larutan berwarna ungu dan ketika larutan ditambahkan H2O2
terdapat 2 fase bagian bawah larutan berwarna kecoklatan dan bagian atas
berwarna ungu.
Berdasrakan referensi semua permanganate
larut dalam air dan membentuk larutan berwarna ungu.
4. KMnO4 ditabahkan
larutan H2SO4 larutan
berwarna ungu dan ketika ditambahkan larutan Na2S2O3 warna larutan berubah
menjadi warna putih susu dan ada endapan putih.
5. Tidak dilakukan percobaan.
6. KMnO4 ditambahkan dengan 10
M NaOH larutan berwarna ungu setelah dipanaskan membentuk gumpalan ungu
kehitaman, setelah ditambahkan H2SO4 gumpalan menjadi
melarut ada gelembung-gelembung dan ada berbau menyengat.
Berdasarkan referensi menyatakan bahwa
dengan memanaskan larutan pekat kalium permanganate dengan larutan pekat
natrium hidroksida, dihasilkan sesuatu larutan kalium permanganate yang hijau
dan dilepaskan oksigen. Bila larutan manganat ini dituangkan dalam air dengan
volumenya besar, atau diasamkan dengan asam sulfat encer, warna ungu dari
kalium permanganate kembali dan mangan dioksida mengendap.
7.
KMnO4 berwarna hitam ungu dipanaskan dengan Kristal menjadi
berwarna hitam pekat dan menjadi sebuk dan ditambahkan dengan air larutan
menjadi berwarna ungu pekat.
Berdasarkan referensi, bila kalium
permanganate dipanaskan dalam tabung reaksi. Melepaskan oksigen yang murni dan
tertinggal suatu residub hitam, kalium manganat, dan mangan dioksida setelah
diektraksi dengan air diperoleh larutan kalium manganat.
- Kesimpulan
1. Logam-logam
transisi seri pertama (3d),(4d),dan (5d) menunjukkan sifat-sifat kimiawi yang
berdekatan dalam periodenya dan kemiripan maupun perbedaan yang khas
ditunjukkan oleh kelompok golongannya.
2. Zat-zat
berwarna yang menghasilkan larutan kuning bila larut dalam air adalah kromat
logam.
3. Kebanyakkan
kromat logam-logam lain tak larut dalam air, natrium,kalium dan ammonium
dikromat larut dalam air.
4. Pemanasan
dikromat padat dengan asam klorida pekat akan membebaskan klor dan menghasilkan
suatu larutan yang mengandunn kromium.
5. Permanganate
larut dalam air, dan membentuk larutan berwarna ungu.
6. Kalium
permanganate jika dipanaskan akan melepaskan oksigen yang murni dan tertinggal
suatu residu hitam, kalium manganat, dan managan dioksida.



