Untitled (Ada Saran??)


            “Assalamu’alaikum.. nyai, nyai  ? “seorang ibu-ibu sedang berteriak didepan sebuah rumah tua yang sebetulnya sudah tak layak untuk di tinggali.
“ iya, bu. ada apa ya? “ seorang wanita tua dengan pakaian lusuh dan bau amis menyengat keluar dari rumah tersebut.
‘itu nyai lanang ngamuk di warung nya mang udin. Cepet nyai kesana.”
“ kenapa bisa seperti itu ?!”, si ibu bingung. Sudah lama penyakit suaminya itu sudah lumayan sembuh tapi kenapa sekarang kumat lagi.
“jang, ujang…. Nia… dimana kalian?” si ibu memanggil anak bujangnya yang sedang tidur dan anak gadisnya yang sedang membersihkan ikan-ikan yang sudah busuk di belakang.
“iya mak nia disini. Ada apa mak?” seorang gadis datang menghampiri ibunya.
“ayo kita cari bapakmu”. Akhirnya si ibu beserta anak gadis dan bujangnya pergi mencari bapaknya yang sedang mengamuk di warung tetangga mereka.
            Walaupun penyakit suami nyai belum sembuh tapi Sudah hampir sebulan ini penyakit suaminya tidak pernah kumat apalagi sampai mengamuk-ngamuk, paling-paling hanya sekedar jalan-jalan di sekeliling pasar sambil mengenakan pakaian ABRI kebanggaannya dan pentungan satpam di tangan. Memang terkadang suami nyai suka berbuat usil dengan menakut-nakuti anak-anak dengan pentungannya atau meminta rokok dan makanan di warung-warung. Kalau tidak diberikan akan diancamnya dengan pentungannya atau berpura-pura akan dimasukkannya ke dalam penjara. Tetapi tidak berniat jahat. Banyak warga yang sudah terbiasa dengan tingkah suami nyai dan bisa memakluminya, bahkan banyak juga yang merasa kasihan dengan suami nyai dan keluarga nyai. Tetapi ada juga warga yang benci sekali pada suami nyai, salah satunya mang udin. Suami nyai sering sekali mendatangi warung mang udin untuk meminta rokok dan makanan. Mang udin kesal karena suami nyai tidak pernah membayar. Seringkali pula mang udin menagih apa yang diambil suami nyai kerumah nyai. Keluarga nyai bukanlah keluarga berpunya, keluarga nyai adalah keluarga yang tinggal di rumah reyot dan tua di sudut pasar. Kebutuhan sehari-hari mereka diperoleh dari pasar itula. Dengan memungut sayur-sayur sisa pedagang sayuran yang sudah tidak terpakai dan ikan-ikan busuk yang sudah tidak laku dan tidak diinginkan lagi oleh penjualnya, lalu nyai dan nia olah menjadi pekasam. Selain untuk dimakan, pekasam ini juga nyai jual untuk kebutuhan hidupnya yang lain yang tak pernah cukup, apalagi harus mengobati suami nyai ke rumah sakit. Saran-saran dari tetangga nyai untuk membawa suami nyai ke dukun pun sudah nyai lakukan. Semua dukun yang namanya sudah terkenal mampu mengobati semua penyakit sudah nyai datangi tapi tetap saja suami nyai tidak bisa disembuhkan. Sampai akhirnya nyai mendatangi seorang kiyai yang sudah 3 kali naik haji, memohon sang kiyai berkenan mendo’akan suaminya agar bisa sembuh. Sang kiyai memenuhi permintaan nyai, dan memberikan obat yang dapat meringankan penyakit suaminya, tapi tidak menyembuhkan. Berkat obat dari kiyai itulah, penyakit suami nyai tidak pernah kumat sampai parah.
            Karena seringnya suami nyai mengambil barang dari warung mang udin dan nyai tidak bisa membayarnya terpaksa nyai berhutang terus pada mang udin. Mungkin hal tersebut juga yang membuat mang udin marah besar dan hilang kesabaran ketika suami nyai mendatangi warung mang udin lagi untuk meminta rokok dan makanan.
            Ketika sampai ditempat mang udin, nyai terkejut melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. Dengan beringas dan tanpa terkendali suami nyai mengacak-ngacak dan menghancurkan warung mang udin sampai hancur berantakan dan mengacung-acungkan sebuah parang yang entah diperolehnya dari mana, ke arah orang-orang yang berusaha mendekat untuk merebut parang yang dipegang. Nyai dan anak-anaknya semakin histeris ketika suami nyai mengapak-ngapak warung mang udin dan mengayun-ayunkan parang yang dipegangnya ke arah orang-orang. Nyai sangat takut suaminya akan melukai orang lain. Nyai berteriak-teriak minta tolong kepada orang-orang untuk menangkap suaminya. Tapi tak ada yang berani mendekat. Seorang warga menyarankan agar dipanggil polisi saja untuk menangkap suami nyai. Nyai menolak, dia tidak mau berurusan dengan polisi. Tiba-tiba datang seorang pria yang membawa senapan. Pria tersebut menakut-nakuti suami nyai agar membuang parangnya kalau tidak akan ditembak. Nyai berteriak mencegah pria tersebut. Nyai takut kalau dia akan benar-benar menembak suaminya. Tapi si pria bilang hanya untuk menakut-nakutinya saja. Memang suami nyai biasanya akan langsung takut kalu diancam dengan senapan, tetapi kali ini tidak. Suami nyai semakin marah melihat pria tersebut. Suamin nyai berlari mendekati si pria sambil mengangkat parangnya tinggi bersiap-siap ingin membacok si pria. Jarak hanya tinggal selangkah lagi antara si pria dan suami nyai ketika terdengar bunyi senapan meletus. Tak lama kemudian suami nyai pun berhasil dilumpuhkan dengan sebuah peluru bersarang didadanya. Semua mulut ternganga dan mata tak berkedip melihat kejadian yang baru aja terjadi. Semua terjadi begitu cepat.
            Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab suami nyai bisa menjadi seperti itu. Ada yang membuat cerita kalau dulu waktu suami nyai masih kecil ayah suami nyai adalah tentara. Seluruh keluarga suami nyai di aniaya dibantai oleh antek-antek PKI di depan matanya. tentara yang seharusnya menyelamatkan mereka tidak kunjung datang. Sejak saat itu suami nyai menjadi yatim piatu. Ketika dewasa suami nyai bercita-cita menjadi tentara agar bisa menyelamatkan orang lain. Tapi apa daya cita-cita tersebut tidak pernah tercapi sehingga membuat suami nyai stress dan selalu memakai seragam tentara kemanapun ia pergi.
Tetapi kejadian yang terjadi pada suami nyai sebenarnya hanya nyai lah yang tahu.