Reaksi Uji Protein


 
I.                   Nomor Percobaan     : 2
II.                Nama Percobaan       : Reaksi Uji Protein
III.             Tujuan Percobaan    : Untuk mengetahui adanya reaksi positif dan reaksi negatif pada protein

IV.             Dasar Teori
Protein adalah senyawa organic kompleks berbobot molekul tinngi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang menghubungkan satu sama lain dengan ikatan peptide. Molekul protein yang mengandung karbon, hydrogen, oksigen dan kadang kala sulfur serta fosfor.protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Keistimewaan dari protein adalah strukturnya yang mengandung N,disamping C,H,O (seperti karbohidrat dan lemak), S (sulfur) dan kadang-kadang P,Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks dengan protein). Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang cukup spesifik untuk menentukan jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan penentuan kandungan N yang ada dalam bahan makanan atau bahan lain. Protein yang mengandung gugus hidroksil Phenil (- - OH) dapat bereaksi dengan larutan mercuri nitrat dan dapat menghasilkan larutan atau endapan yang berwarna merah. Secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari polipeptida dan protein kompleks yang mengandung zat-zat makanan tambahan seperti hern, karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Untuk protein kompleks, bagian polipeptida dinamakan aproprotein dan keseluruhannya dinamakan haloprotein. Secara fungsional protein juga menunjukkan banyak perbedaan. Dalam sel mereka berfungsi sebagai enzim, bahan bangunan, pelumas dan molekul pengemban. Tapi sebenarnya protein merupakan polimer alam yang tersusun dari berbagai asam amino melalui ikatan peptide.
Beberapa uji kualitatif dapat digunakan untuk mendeteksi adanya protein. Uji tersebut meliputi Uji Biuret, Pengendapan dengan Logam, Pengendapan dengan garam, dan Uji Koagulasi.
Beberapa penguji reaksi protein adalah :
1)      Pereaksi Xantoprotein
Larutan asam nitrat ditambahkan ke dalam larutan protein secara hati – hati. Setelah dicampurkan akan terbentuk endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning bila dipanaskan. Peristiwa yang terjadi adalah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Jadi uji ini positif untuk protein yang mengandung asam amino tirosin, fenilalanin, dan triptofan.
2)      Pereaksi Hopkins-Cole
Digunakan untuk menguji adanya asam amino triptofan. Khususnya yang mengandung gugus indol.
3)      Pereaksi Millon
Digunakan untuk menguji adanya gugus fenol pada protein misalnya tirosin.
4)      Pereaksi Nitroprusida
Digunakan untuk protein yang asam aminonya mempunyai gugus –SH misalnya sistein.
5)      Pereaksi Sakaguchi
Untuk uji protein yang asam aminonya mengandung gugus guanidine seperti arginin yang memberikan warna merah.

Asam amino adalah senyawa organic yang memiliki gugus fungsional karboksil  (-COOH) dan aminanya (biasanya –NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit: keduanya terikat pada satu atom karbon (C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion. 
Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Atom C pusat tersebut dinamai atom Cα ("C-alfa") sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom Cα ini, senyawa tersebut merupakan asam α-amino.Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.


V.                Alat dan Bahan
a.       Alat :
-          Tabung reaksi
-          Penjepit tabung
-          Pipet tetes
-          Gelas ukur
-          Beker gelas
-          Batang Pengaduk
b.      Bahan
-          Putih telur                         - Larutan HgCl2
-          Kuning telur                      - Larutan Pb Asetat
-          Albumin                            - Amonium Sulfat
-          Susu bubuk                       - NaCl (garam dapur)
-          Susu cair                            - Reagen Millon
-          Larutan ikan gabus            - Reagen Biuret
-          Larutan NaOH                  - Larutan HOAc
-          Larutan CuSO4

VI.             Prosedur Kerja
a.       Uji Biuret
Tambahkan 1 ml NaOH 2,5 N kedalam 3 ml larutan protein dan aduk. Tambahkan setetes CuSO4 0,01 M. Aduk, jika tidak timbul warna lagi setetes atau 2 tetes CuSO4.
b.      Pengendapan dengan logam
Ke dalam 3 ml larutan protein, tambahkan 5 tetes HgCl2 0,2 M. Ulangi percobaan dengan menggunakan Pb asetat 0,2 M.
c.       Pengendapan dengan garam
Jenuhkan 10 ml larutan protein dengan ammonium sulfat. Untuk pekerjaan ini dilakukan : pertama, tambahakn sedikit garam tersebt, aduk hingga melarut. Tambahkan lagi sedikit ammonium sulfat dan aduk lagi, kontinu sehingga sedikit garam tertinggal tidak terlarut. Apabila larutan jenuh, kemudian disaring. Uji kelarutan dari endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen Millon dan filtrate dengan uji Biuret.


d.      Uji koagulasi
Tambahkan 2 tetes HOAc 1 M ke dalam 5 ml larutan protein. Letakkan tabung dalam air mendidih selama 5 menit. Ambil endapan dengan batang pengaduk. Uji kelarutan endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen Millon.

VII.          Hasil Pengamatan

Reaksi Uji
Protein
Hasil Pengamatan
Uji Biuret
Putih Telur
Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 8 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)
Kuning Telur
Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 20 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)
Susu Cair
Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 14 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)
Susu Bubuk
Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 20 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)
Ikan Gabus
Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 10 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)
Albumin
Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 20 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)

Uji Pengendapan dengan Logam
Putih Telur
Larutan tak berwarna. Setelah ditambahkan 35 tetes HgCl2 terbentuk endapan putih.
Endapan putih juga terbentuk saat penambahan 5 tetes Timbal asetat.
Kuning Telur
Larutan kuning keruh. Setelah ditambahkan 60 tetes HgCl2 terbentuk endapan kuning.
Endapan kuning juga terbentuk saat penambahan 60 tetes Timbal asetat.
Susu Cair
Larutan putih. Setelah ditambahkan 35 tetes HgCl2 terbentuk endapan putih.
Endapan putih juga terbentuk saat penambahan 60 tetes Timbal asetat.
Susu Bubuk
Larutan putih. Setelah ditambahkan 90 tetes HgCl2 terbentuk endapan putih.
Endapan putih juga terbentuk saat penambahan 40 tetes Timbal asetat.
Ikan Gabus
Larutan putih. Setelah ditambahkan 25 tetes HgCl2 terbentuk endapan putih.
Endapan putih juga terbentuk saat penambahan 30 tetes Timbal asetat.
Albumin
Larutan tak berwarna. Setelah ditambahkan 5 tetes HgCl2 terbentuk endapan putih.
Endapan putih juga terbentuk saat penambahan 5 tetes Timbal asetat.

Uji Pengendapan dengan Garam

Putih Telur
(tak dilakukan)
Kuning Telur
(tak dilakukan)
Susu Cair
Setelah ditambahkan 7 gram (NH4)2SO4 larutan menjadi jenuh. Endapan hasil penyaringan, direaksikan dengan reagen Millon, maka endapan berubah menjadi merah.
Filtratnya ditambahkan dengan reagen Biuret dan larutan berubah menjadi biru.
Susu Bubuk
Setelah ditambahkan 6 gram (NH4)2SO4 larutan menjadi jenuh. Endapan hasil penyaringan, direaksikan dengan reagen Millon, maka endapan berubah menjadi merah.
Filtratnya ditambahkan dengan reagen Biuret dan larutan berubah menjadi biru.
Ikan Gabus
(tak dilakukan)
Albumin
(tak dilakukan)

Uji Koagulasi
Putih Telur
Terbentuk endapan sebanyak 0,521 gr, setelah ditambahkan Millon,endapan berubah menjadi Merah. Endapanya tidak larut dalam air. Filtratnya ditambahkan dengan reagen biuret maka warna bening berubah jadi ungu.
Kuning Telur
Terbentuk endapan sebanyak 0,249 gr, setelah ditambahkan Millon,endapan berubah menjadi Merah. Endapanya larut dalam air. Filtratnya ditambahkan dengan reagen biuret maka warna bening berubah jadi ungu.
Susu Cair
Terbentuk endapan sebanyak 0,0195 gr, setelah ditambahkan Millon,endapan berubah menjadi Merah. Endapanya tidak larut dalam air. Filtratnya ditambahkan dengan reagen biuret maka warna bening berubah jadi ungu.
Susu Bubuk
Terbentuk endapan sebanyak 0,3519 gr, setelah ditambahkan Millon,endapan berubah menjadi Merah. Endapanya tidak larut dalam air. Filtratnya ditambahkan dengan reagen biuret maka warna bening berubah jadi ungu.
Ikan Gabus
Terbentuk endapan sebanyak 0,0,981 gr, setelah ditambahkan Millon,endapan berubah menjadi Merah. Endapanya tidak larut dalam air. Filtratnya ditambahkan dengan reagen biuret maka warna bening berubah jadi ungu.
Albumin
Terbentuk endapan sebanyak 4,061 gr, setelah ditambahkan Millon,endapan berubah menjadi Merah. Endapanya tidak larut dalam air. Filtratnya ditambahkan dengan reagen biuret maka warna bening berubah jadi Biru.




VIII.       Hasil Reaksi

































IX.             Pembahasan
Pada uji biuret, semua protein yang digunakan yaitu : putih telur, kuning telur, susu cair, susu bubuk, ikan gabus dan albumin mengalami reaksi ketika ditambahkan larutan CuSO4 dan NaOH. Reaksi yang terjadi ditandai dengan perubahan warna, yang semula larutan tak berwarna menjadi berwarna ungu.
Reaksi yang terjadi pada protein pada uji biuret tersebut merupakan positif, karena reaksi positif pada uji biuret ditandainya dengan terbentuknya warna ungu pada larutan. Hal ini dikarenakan terbentuknya senyawa kompleks Cu2+ dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam proteinUji Biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada filtrat yang dihasilkan, dimana dalam suasana basa Cu bereaksi dengan beberapa jenis larutan protein dan menghasilkan warna ungu. Hasil pembentukan senyawa kompleks, reaksi biuret dapat terjadi pada molekul yang mengandung 2 gugus ( - C - NH -) yang terikat pada satu atom karbon atau atom nitrogen atau O terikat langsung. Senyawa yang mengandung gugus – C- NH – diganti O dengan gugus – C –NH2 O - C – NH2 atau gugus –CH2NH2 juga positif dalam uji Biuret.
Pada percobaan kedua yaitu uji pengendapan dengan logam, semua protein yang ditambahkan dengan senyawa logam yaitu Pb asetat dan HgCl2 mengalami pengendapan. Reaksi yang terjadi antara garam logam berat akan mengakibatkan terbentuknya garam protein-logam yang tidak larut . Protein yang tercampur oleh senyawa logam berat akan terdenaturasi. Hal ini terjadi pada albumin yang terkoagulasi setelah ditambahkan AgCl2 dan Pb-asetat. Senyawa-senyawa logam tersebut akan memutuskan jembatan garam dan berikatan dengan protein membentuk endapan logam proteinat.
Pada reaksi pengendapan dengan garam, susu cair dan susu bubuk mengalami reaksi ketika ditambahkan larutan (NH4)2SO4 lalu di uji dengan reagen millon dan reagen biuret. Protein ini mengendap karena terdapat garam-garam anorganik dengan konsentrasi yang tinggi dalam larutan protein. Berbeda dengan logam berat, garam-garam anorganik mengendapkan protein karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat air. Endapan yang dihasilkan lalu direaksikan dengan pereaksi millon memberikan warna merah, dan filtrat yang dihasilkan direaksikan dengan reagen biuret memberikan berwarna biru. Hal ini berarti ada sebagian protein yang mengendap setelah ditambahkan garam.
            Pada uji koagulasi, endapan yang direaksikan dengan reagen millon memberikan reaksi positif. Endapan dari putih telur, kuning telur, susu cair, susu bubuk dan albumin ketika direaksikan dengan reagen millon memberian warna merah. Sedangkan filtratnya memberkan warna ungu ketika ditambah dengan reagen biuret, kecuali pada albumin yang berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa endapan tersebut masih bersifat sebagai protein, hanya saja telah terjadi perubahan struktur tersier ataupun kwartener, sehingga protein tersebut mengendap. Perubahan struktur tersier protein ini tidak dapat diubah kembali ke bentuk semula, ini bisa dilihat dari tidak larutnya endapan albumin itu dalam air.


X.                Kesimpulan
a)             Reaksi yang terjadi pada uji biuret adalah reaksi positif karena ditandai dengan warna ungu pada larutan.
b)             Uji Biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada filtrat yang dihasilkan, dimana dalam suasana basa Cu bereaksi dengan beberapa jenis larutan protein dan menghasilkan warna ungu.
c)             Reaksi yang terjadi antara garam logam berat akan mengakibatkan terbentuknya garam protein-logam yang tidak larut.
d)            Protein yang tercampur oleh senyawa logam berat akan terdenaturasi.
e)             Reaksi dengan garam-garam anorganik akan mengendapkan protein karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat air.
f)              Reaksi yang terjadi pada uji koagulasi memberikan reaksi positif yang ditandai dengan timbulnya warna merah pada endapan setelah ditambahkan reagen millon dan warna ungu pada filtrat setelah ditambahkan reagen biuret.












Daftar Pustaka


Lehninger, Albert. 1983. Dasar-dasar Biokimia Jilid I. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Sukaryawan, Made. 2011. Petunjuk Praktikum Biokimia I. Indralaya : Universitas Sriwijaya.
http://silviahandayani.blogspot.com. Uji Kualitatif Protein. Diakses Pada Tanggal 6 Maret 2012.
http://madeagustina.blogspot.com. Praktikum Biokimia : Reaksi-reaksi Protein. Diakses Pada Tanggal 6 Maret 2012.
http://www.dostoc.com. Praktikum Biokimia. Diakses Pada Tanggal 6 Maret 2012.




















Gambar Alat
































Pertanyaan :
a)      Reaksi uji biuret
1.      Warna apa yang terjadi ?
Jawab : Larutan tak berwarna berubah menjadi ungu pada penambahan 8 tetes CuSO4 ( setelah ditambah NaOH 2,5 N)
2.      Mengapa harus dihindarkan kelebihan CuSO4 ?
Jawab :      Cu merupakan logam berat. Jika penggunaannya terlalu banyak maka albumin akan terdenaturasi membentuk koagulan. Pada suasana alkalis akan terbentuk Cu(OH)2 dari reaksi : Cu2+ + 2OH- → Cu(OH)2 (ungu) Cu2+ berwarna biru, jika berlebihan akan mengakibatkan warna ungu terkalahkan sehingga hasilnya negatif.
3.      Mengapa garam ammonium mengganggu ?
Jawab : Karena ion-ion dari garam ammonium lebih mudah dalam mengikat air, sehingga menyebabkan kelarutan protein dalam     air berkurang.
4.      Sebutkan dua macam zat lain selain protein yang memberikan uji biuret positif ?
Jawab : Zat lain yang dapat memberikan uji biuret positif adalah Peptida dan Asam amino.

b)     Pengendapan dengan logam
1.      Apa hasilnya ?
Jawab : yang teradi pada percobaan ini yaitu saat sampel ditambahkan HgCl2 maka warna berubah menjadi putih, tetapi campuran reaksi tersebut belum membeku atau masih dalam keadaan encer. Dan saat ditambahkan dengan Pb (CH3COO)2, warna pada campuran kemudian berubah menjadi putih, dan terbentuk endapan putih.
2.      Terangkan mengapa putih telur digunakan sebagai antidote pada keracunan Pb dan Hg !
Jawab : Karena protein yang terdapat dalam putih telur berfungsi sebagai biokatalis pengganti se-sel yang telah rusak akibat gas-gas kimia beracun dari Pb dan Hg, selain itu putih telur juga digunakan sebagai antidotum terhadap keracunan logam berat karena putih telur mengandung albumin, sehingga apabila tubuh keracunan logam berat maka ion logam berat tersebut akan bereaksi dengan albumin membentuk koagulan sehingga logam berat tersebut tidak akan mengganggu atau merusak aktivitas enzim lain di dalam tubuh.

c)      Pengendapan dengan garam
1.      Terangkan hasil-hasilnya !
Jawab : Pada reaksi pengendapan dengan garam, susu cair dan susu bubuk mengalami reaksi ketika ditambahkan larutan (NH4)2SO4 larutan menjadi jenuh, lalu di uji dengan reagen millon dan reagen biuret. Endapan yang dihasilkan lalu direaksikan dengan pereaksi millon memberikan warna merah, dan filtrat yang dihasilkan direaksikan dengan reagen biuret memberikan berwarna biru. garam-garam anorganik tersebut mengendapkan protein karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat air.

d)     Uji koagulasi
1.      Mengapa ditambahkan asam ?
Jawab :
2.      Protein apa yang menggumpal pada pendidihan ?
Jawab :