My Father, My Hero


            Di suatu siang yang terik, daun-daun pepohonan bergemerisik tertiup angin yang berhembus semilir menemani seorang lelaki tua yang sedang bersandar di sebuah pohon besar sambil mengipas-ngipaskan caping lusuhnya, menerawangkan beban yang sedang dipikirkannya. Pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak tadi pagi sungguh membuatnya lelah dan memaksanya beristirahat sejenak, walaupun sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.  Angin yang bertiup terasa sangat menyejukkannya, menguapkan seluruh keringat yang dari tadi membasahi sekujur tubuhnya. Tetapi rona mukanya memperlihatkan jika ia tengah memikirkan sesuatu, terlihat pula sejuta beban yang ditanggungnya lewat keriput-keriput diwajahnya. Perut terasa lapar dan rasa kantuk pun mendera, Jika bukan karena memikirkan hidup keluarganya, tentu dia lebih memilih pulang kerumah, beristirahat dan tidur daripada membersihkan kebun orang lain yang upahnya tidak seberapa.
            Siang ini istrinya tidak datang untuk mengantarkan makan siang untuk dirinya. Mungkin istrinya merasa kelelahan karena seharian juga menjajakan makanan demi membantu suaminya mengais rezeki. Sering ia melarang istrinya untuk berjualan karena fisiknya yang lemah, jika terlalu kelelahan penyakit asam urat nya akan kambuh lagi. Tetapi istrinya selalu menolak. Ia tetap ingin membantu suaminya, karena biaya hidup yang ditanggung tidaklah ringan. Ketiga anaknya membutuhkan biaya yang besar untuk pendidikannya. Kedua anaknya bersekolah di SMA Negeri dengan biaya pendidikan, sedangkan yang paling bungsu duduk di bangku SMP. Walaupun susah semua kebutuhan anak-anaknya selalu berusaha ia penuhi. Hingga terkadang membuatnya harus bekerja siang dan malam tanpa henti. Tak ada waktu yang dapat ia berikan untuk anak-anaknya. Anak-anaknya terasa sangat dekat dengan dengan istrinya tetapi sangat jauh dari dirinya.
            Siang ini yang membuat hati dan kepala lelaki tua yang sering dipanggil pak amar  itu tidak tenang bukanlah masalah perutnya yang sudah berteriak-teriak kelaparan, tetapi permintaan si bungsu tadi malam yang membuatnya harus memutar otak hingga sekarang.
Semalam anaknya yang paling bungsu mendatanginya yang tengah istirahat di  atas dipan depan rumah. Rumahnya bukanlah rumah yang beratap genting, dengan cat putih bersih atau dengan warna-warna yang indah, serta bunga-bunga yang berjejer dalam pot yang menghiasi teras seperti rumah-rumah tetangganya. Rumahnya adalah sebuah rumah yang beratapkan seng yang sering bocor, dan bercatkan warna putih keruh, yang nampak sekali tidak pernah dicat ulang selama bertahun-tahun. Di rumah kecilnya itulah ia dan keluarga kecilnya hidup.
            “Pak, bapak …. “. Anak bungsu lelaki itu mendekatinya yang sedang menyeruput secangkir kopi tanpa gula, memanggilnya dengan nada manja.
            “ Ada apa nduk ?”
            “ bapak pasti capek, sini biar ita pijitin ya pak”
            “ kok tumben mau mijitin bapak?!! Yo wes sini mijitin pundak bapak.”
“ pak, ita mau kasih tau bapak sesuatu.”
“ kasih tau apa? Tinggal ngomong aja, nggak usah pake teka-teki.”
“ mulai sekarang ita mau pake jilbab pak. Emak sudah setuju, bapak juga setuju kan?!”
loh, kenapa tiba-tiba mau pake  jilbab?”
“iya pak, kata ibu guru wanita muslimah itu wajib pake jilbab apalagi kalo sudah baligh. Biar nggak diganggu sama cowok pak.”
Gadis yang dipanggil Ita itu tersenyum polos menceritakan alasannya mau mengenakan jilbab kepada ayahnya.
kalo karena itu alasannya kamu mau pake jilbab ya bapak setuju saja. Kamu juga kan sudah mulai besar”
“ tapi ita nggak punya jilbab sama baju panjang pak. Baju sekolah ita juga lengan pendek dan rok pendek. Ita nggak mungkin make’ nya lagi pak.”
Pak amar sudah menduga kalau anaknya itu pasti akan meminta sesuatu dengan menyampaikan keinginannya tersebut.
            “ kalo sekarang bapak lagi nggak punya uang untuk beli baju dan seragam baru buat ita. Ita yang sabar ya. nanti pasti bapak belikan.”
Pikiran pak amar mulai gelisah. Bagaimana dia akan membelikan baju dan seragam baru untuk anaknya sedangkan dia tidak punya pekerjaan tetap. Pekerjaannya selama ini hanya sebagai buruh serabutan dan tukang kebun. Tapi sungguh tak tega hatinya untuk menolak keinginan anaknya, apalagi keinginan itu begitu mulia. Perasaan gelisah mulai berkecamuk dalam dadanya.

 To be Continued ... *#

My Photos


* When I'm alone ^^




* Foto in the chem's Lab,,, our Favorite Lab


* not good,, coz i'm not there...